Selasa, 07 September 2010

PENGERTIAN HORTIKULTURA

Kata hortikultura (horticulture) berasal dari bahasa latin yaitu (hortus) yang berarti kebun dan colere yang berarti menumbuhkan terutama sekali mikroorganisme pada suatu medium buatan. Secara harfiah hortikultura berarti ilmu yang mempelajari pembudidayaan tanaman kebun. Akan tetapi para pakar mendefinisikan hortikultura sebagai ilmu yang mempelajari budidaya tanaman sayuran, buah-buahan, bunga-bungaan, dan tanaman hias.
Pada umumnya, isi kebun di Indonesia adalah berupa tanaman buah-buahan, tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman bumbu masak, tanaman obat-obatan, dan tanaman penghasi rempah-rempah. Sementara di negara maju, budidaya tanaman hortikultura sudah merupakan suatu usaha tani yang berpola komersil yakni diusahakan secara monokultur di ladang produksi yang luas.
Berdasarkan jenis komoditas yang diusahakan, hortikultura dibagi atas beberapa disiplin ilmu yang lebih spesifik.
 Olericulture, yaitu bagian dari imu hortikultura yang memperlajari budidaya tanaman sayuran
 Pomology yaitu bagian dari ilmu hortikultura yang mempelajari budidaya tanaman buah-buahan.
 Floriculture,yaitu bagian dari ilmu hortikultura yang mempelajari pengembangan tanaman hias
 Landscape horticulture, yaitu bagian dari ilmu hortikultura yang mempelajari pemanfaatan tanaman hortikultura, terutama tanaman hias dalam penataan lingkungan
 Apiary (apikultura) yaitu bagian dari hortikultura yang mempelajari budidya lebah madu.
CIRI-CIRI PRODUK HORTIKULTURA
Tanaman yang digoongkan ke dalam tanaman hortikultura sangat luas dan beragam, namun bila di lihat ciri-ciri produknya terdapat banyak kesamaan pokok yakni:
 Produk hortikultura mudah rusak (perishable) bila disimpan tanpa perlakuan khusus, misalnya dengan perlakuan suhu rendah (4°) atau pelapisan lilin, karena dipanen dalam bentuk segar.
 Komponen utama produk ditentukan oleh kandungan air (water content) , dan bukan oleh kandungan bahan kering (dry matter) karena konsumsinya dalam keadaan segar.
 Ketersediaan produk, terutama dari kelompok buah-buahan, bersifat musiman dan meruah (voluminuous atau bulky) pada saat panen, terutama pane raya, sehingga mempersulit penanganan dan pengangkutannya.
 Harga produk ditentukan oleh kualitas, bukan oleh kuantitas.
 Tubuh manusia membutuhkan konsumsi tanaman hortikultura dalam jumlah yang sedikit namun apabila tidak dipenuhi maka akan berdampak buruk pada kesehatan.
 Produk hortikultura merupakan sumber vitamin dan mineral, dan bukan diutamakan sebagai sumber protein dan karbohidrat.

PENGELOMPOKAN TANAMAN HORTIKULTURA
1. Klasifikasi Sayuran
2. Klasifikasi Buah
3. Klasifikasi Bunga

 Klasifikasi tanaman sayuran
Pada tanaman sayuran sebenarnya banyak tipe klasifikasi yang tersedia, namun tipe klasifikasi berikut merupakan tipe klasifikasi yang paling banyak dipakai serta yang paling mudah dimengerti yaitu klasifikasi berdasarkan sistematika botani dan klasifikasi berdasarkan bagian yang dapat dikonsumsi.
a. Klasifikasi botani
Klasifikasi tanaman botani tidak ubahnya seperti tanaman-tanaman lain pada umumnya. Gambaran umum klasifikasi botani tanaman sayuran adalah sebagai berikut :
Divisi:
1. Alga dan jamur (Thallophyta)
2. Lumut dan kerakap (Bryophyta)
3. Paku-pakuan (Pterydophyta)
4. Tumbuhan berbiji (Spermatophyta)



b. Klasifikasi bagian yang dikonsumsi
1) Sayuran akar:

a) Pembesaran akar tunggang, misalnya wortel (Daucus carota),lobak(raphanus sativus),dan bit gula (beta vulgaris).
b) Pembesaran akar lateral, misalnya ubi jalar (ipomoea batatas) dan singkong (manihot esculenta).

2) Sayuran batang
a) Batang atas tanah dan tidak berpati, misalnya asparagus (asparagus sp) dan kohlrabi (brassica oleracea grup gongylodes).
b) batang bawah tanah dan berpati, misalnya kentang (solanum tuberosum), talas (colocasia esculenta) dan yautia (xanthosola saggitifolium).

3) Sayuran daun
a) Kelompok bawang (yang dikonsumsi adalah bagian bawang daun) misalnya bawang merah (Allium cepa), bawang Bombay (Allium cepa grup Aggregatum), dan bawang putih (Allium sativum).
b) Kelompok berdaun lebar
• Dikonsumsi sebagai lalapan,misalnya selada (lactuca sativa), kubis (Brassica oleracea grup Capitata), dan seledri besar (Apium graveolens).
• Dikonsumsi setelah dimasak (termasuk batangnya yang lunak), misalnya bayam (Amarantus tricolor).

4) Sayuran daun
a) Buah muda, misalnya timun (Cucumis sativus,) berbagai jenis kacang-kacangan seperti kacang kapri (Pisum sativum) dan terong (Solanum melongena)
b) Buah dewasa, misalnya family cucurbitaceae (labu siam, timun, gambas) dan family Solanaceae (tomat,cabai)

5) Sayuran bunga atau tunas bunga muda, misalnya kubis bunga dan brokoli.

6) Jamur (mushroom) seperti jamur merang, jamur kuping, jamur kayu.



PENANGANAN PASCA PANEN
PHT merupakan pengendalian hama yang menggunakan semua teknik dan metoda yang sesuai dalam cara-cara yang seharmonis-harmonis dan mempertahankan populasi hama dibawah tingkat yang menyebabkan kerusakan ekonomi di dalam keadaan lingkungan dan dinamika populasi spesies hama yang bersangkutan.
Prinsip dasar PHT adalah yaitu:
1. Pengendalian alami dan budidaya tanaman diutamakan.
2. Landasan pelaksanaannya adalah keamanan dan kesehatan, keuntungan secara ekonomi seta keadaan social dan budaya masyarakat.
3. Pengendalian kimiawi dilakukan secara bijaksana.

 Tujuan dan Sasaran PHT
Pada prinsipnya pendekatan ekologis, ekonomis dan social budaya meupakan pendekatan yang dijadikan dasar mengembangkan dan menerapkan PHT di Indonesia.
Secara umum tujuan PHT adalah :
1) Memantapkan hasil dalam taraf yang telah dicapai oleh teknologi maju
2) Mempertahankan kelestarian lingkungan
3) Melindungi kesehatan produsen dan konsumen
4) Meningkatkan efisiensi masukan dalam berproduksi
5) Meningkatkan kesejahteraan/pendapatan petani
Sasaran yang ingin dicapai PHT antara lain:
1) Produktivitas pertanian terjamin pada taraf tinggi
2) Populasi dan atau serangan OPT tidak menimbulkan kerugian ekonomis
3) Keuntungan ekonomi yang diterima petani maksimal
4) Kandungan bahan berbahaya dalam produk-produk pertanian tidak melampaui batas


Pengendalian Hama Dan Penyakit
Seperti halnya dengan tanaman sayur lainnya, tanaman petsai tidak luput dari serangan hama dan penyakit. Serangan hama dan penyakit ini dapat mengakibatkan panen yang menurun dan sedikit, dan yang penting ialah mutu atau kualitas tanaman petsai ini akan menurun. Bila kualitasnya menurun maka pemasarannya pun akan mengalami hambatan. Paling untung seandainya ada yang berani membeli akan memberikan harga yang rendah.
Oleh sebab itu pengendalian atau pencegahan hama dan penyakit tanaman petsai harus dilakukan sedini mungkin, sejak dari pengolahan tanah untuk tempat persemaian sampai seminggu sebelum panen.
Di bawah ini dijelaskan beberapa hama dan penyakit yang sering menyerang tanaman petsai serta usaha pencegahan dan pengendaliannya.
1. Ulat Tanah (Agrotis ipsilon)
Ulat tanah atau yang sering disebut sebagai ulat pemotong batang banyak dijumpai di dalam tanah. Ulat tanah ini lebih senang menyerang tanamn petsai pada sore hari. Warnaya gelap kehitam-hitaman. Tanaman petsai yang masih muda lebih disenangi ulat tanah ini.
Untuk memberantas ulat ini, kita harus menggunakan Dipterex 80 SP atau dengan menggunakan Tamaron 200 LC 0,1-0,2%.
2. Plutella xylostella
Ulat ini menyerang daun-daun yang masih muda pada semua tingkat tanaman. Daun-daun yang terserang akan tampak berlubang-lubang. Dalam suasana hujan yang rintik-rintik, daya serang ulat ini akan menghebat, sedangkan pada keadaan hujan yang turun sangat lebat daya serangnya akan menurun.
Ulat ini dapat diberantas dengan menggunakan insektisida seperti Dipterex 80 SP, Bayrusil 25 FC 0,1-0,1%. Atau juga bias dibasmi dengan menggunakan spora bakteri.
3. Alternaria brassicae
Penyakit yang ditimbulkan oleh cendawan ini sering juga disebut penyakit bintik hitam. Cendawan ini lebih senang menyerang bagian daun, sehingga pada daun-daun yang terserang akan timbul bintik-bintik hitam. Serangan penyakit ini akan menghebat pada keadaan cuaca panas atau lembab. Penyakit ini menyerang tanaman petsai baik yang masih muda maupun yang sudah tua.
Penyakit ini dapat dibasmi dengan menggunakan semprotan Dithane M 45 0,2%, Antracol, Vondozeb 0,2%, dan Captafol.
4. Phytatium splendens
Penyakit yang ditimbulkan oleh cendawan ini disebut penyakit busuk akar. Sudah mulai tampak dan menyerang pada tanaman petsai berumur kira-kira 15 hari (di persemaian). Demikian juga sampai saat panen. Tanaman yang terserang akan menjadi layu dan akhirnya mati, dan apabila dicabut akar tanaman kelihatan membusuk.
5. Plasmodiophora brassicae
Penyakit yang ditimbulkan oleh cendawan parasit ini disebut penyakit akar bengkak akar atau clubroot. Cendawan parasit ini hampir menyerang seluruh tanaman yang termasuk dalam familia Cruciferae. Penyakit ini dikatakan sangat sukar untuk dibasmi karena cendawan ini memiliki spora istirahat yang tahan lama sampai bertahun-tahun hidup dalam tanah. Cendawan ini juga daya serangnya akan menghebat pada pH tanah optimum 5-6.
Tanaman petsai yang terserang penyakit ini akarnya akan mengalami pembesaran atau pembengkakan dalam waktu yang relative cepat. Tanaman yang terserang penyakit ini akan tampak layu pada saat matahari terik atau panas dan lambat laun pertumbuhan tanaman akan terhambat.
Di kebun penyakit ini nampak jelas di siang hari yang panas dan terik, karena tanaman tampak kurang sehat, daun-daun terkulai lemas, dan disana-sini terdapat bagian tanah yang kosong karena tanaman mati muda.
Untuk mencegah serangan penyakit bengkak akar ini di pembibitan, harus ditempuh cara: tanah kebun yang terinfeksi, tidak digunakan atau diambil untuk tanah persemaian tanah persemaian sebelum digunakan disterilkan terlebih dahulu dengan uap air panas.
6. Erwina corotovora
Penyakit ini ditimbulkannya disebut penyakit busuk basah atau soft rot. Penyakit ini banyak mendatangkan kerugian dan menyerang tanaman sewaktu pemindahan maupun di dalam penyimpanan, oleh karenanya disebut juga sebagai penyakit lepas panen.
Gejala serangan dimulai dengan melunaknya jaringan yang terserang, kemudian membusuk dan berair, yang akhirnya timbul bau busuk.
Karena penyakit ini banyak dijumpai pada saat lepas panen, maka cara mengendalikan penyakit ini ialah dengan cara penanganan yang baik setelah lepas panen. Apabila ada tanaman yang terluka, maka dengan mudah akan terinfeksi.
Dalam bisnis tanaman petsai untuk mencegah serangan penyakit ini sebelum dipasarkan dimasukkan dulu dalam kantung-kantung plastik rapat dan disimpan dalam lemari pendingin pada suhu 50°C atau 0°C. Atau bisa juga dengan menggunakan bahan kimia yang bernama Chlorox yang dapat bertahan selama 4 hari.


SAWI CINA, Brassica rapa L. subsp. Chinensis (Rupr.) Olsson (Grup Chinensis)
Nama lain. Pak Choi, Bok Choy
Berbagai jenis sawi dalam kelompok ini umumnya dikenal sebagai pak choi (bahasa kanton, yang berarti sayuran putih) atau bok choy, dan beberapa jenis memiliki penampakan mirip chard Swiss. Produksi pak choi kira-kira sama dengan sawi putih, dan telah dibudidayakan sejak abad ke-5. Tanaman ini masih terus merupakan salah satu sayuran peting Asia. Khususnya di Cina. Daunnya bertangkai, berbentuk agak oval, berwarna hijau tua, dan mengkilap, tidak membentuk kepala, tumbuh agak tegak atau setengah mendatar, tersusun dalam spiral yang rapat, melekat pada batang yang tertekan. Tangkai daunnya, berwarna putih atau hijau muda, gemuk dan berdaging; tanaman ini tingginya 15-30 cm. Keragaman morfologis dan periode kematangan cukup besar pada berbagai kultivar pada kelompok ini. Terdapat bentuk daun dengan warna hijau pudar dan ungu yang berbeda-beda, dan juga dikenal kultivar tipe kerdil.
Pak choi kurang peka terhadap suhu ketimbang sawi putih, dan karena itu memiliki adaptasi yang lebih luas. Vernalisasi minimum biasanya diperlukan untuk bolting. Bunganya berwarna kuning pucat. Tanaman ini ditanam dengan benih langsung atau dipindah-tanam dengan kerapatan tinggi, umumnya sekitar 2-25 tanaman/m², dan kultivar kerdil ditanam dua kali lebihrapat.

Choi sum (bahasa kanton, yang berarti sayuran hati), juga secara salah kaprah disebut sebagai kubis Cina, biasanya diklasifikasikan sebagai B. rapa subsp. Parachinensis (Bailey) Tsen & Lee (Grup Parachinensis). Tanaman yang tidak membentuk kepala ini mirip dengan pak choi dan kadang-kadang disebut pak choi tiruan. Tanaman ini juga banyak ditanam di Asia Tenggara. Karena periode pertumbuhannya pendek, dan ketika dipanen ketika masih muda dengan ukuran agak kecil, tanaman ini biasanya ditanam dengan kerapatan tinggi. Setelah berumur 5-6 minggu, choi sum mencapai tinggi 20-26 cm. Daun, berwarna hijau tua cerah atau ungu, dan perbungaannya dipanen pada waktu atau beberapa hari setelah berbunga. Tanaman ini mudah berbunga jika ditanam pada kondisi hari-panjang; bunganya berukuran kecil dan berwarna kuning. Tanaman yang dipanen digunakan saperti pak choi. Umur pascapanen chio sum pendek, bahkan dengan kondisi penyimpanan yang baik sekalipun.




Manfaat Sawi Tanah
Sawi Tanah atau sering disebut dengan Nasturtium montanum Wall. Berasal dari kata
Rorippa indicum, (Linn.), Hieron. = R. montana, (Wall.), small. = Sinapis pusilla, Roxb.Dari
Familia :Cruciferae (Brassicaceae)
Terna, tumbuh liar di tepi saluran air, di ladang dan di tempat-tempat yang tanahnya agak lembab sampai setinggi 1.300 m dari permukaan laut. Berbatang basah, tinggi sampai 55 cm. Daun bentuk bulat telur, atau bulat memanjang, ujung melancip, tepi bergerigi atau beringgit, tunggal, duduk tersebar. Bunga kecil warna kuning, tersusun dalam tandan pada ujung-ujung batang. Buah berupa buah lobak, bila masak membuka dengan 2 katub.

Penyakit Yang Dapat Diobati :
Radang saluran nafas, Batuk, TBC, Panas, Campak, Reumatik; Sakit tenggorokan, Hepatitis, Bisul, Memar, Luka berdarah; Gigitan ular, Kencing berkurang;

Pemanfaatan :
BAGIAN YANG DIPAKAI: Seluruh tanaman, segar atau kering.
KEGUNAAN: 1. Radang saluran nafas, batuk berdahak, TBC.
2. Panas, campak, sakit tenggorok.
3. Rheumatik persendian yang akut (acute rheumatic arthritis)
4. Hepatitis, kencing berkurang (oliguria).
5. Bisul, memar, luka berdarah, gigitan ular
PEMAKAIAN :
15 - 30 gr. bahan kering atau 30 - 60 gr., bahan segar, direbus, minum
PEMAKAIAN LUAR :
Luka, bisul, tanaman segar dilumatkan, sebagai tapal.
CARA PEMAKAIAN :
1. Radang saluran nafas (chronic bronchitis): Dengan pengolahan, ambil zat berkhasiat yaitu rorifone, 200 - 300 mg/hari, dibagi dalam 4 dosis, selama 10 hari. Pada pemberian lebih dari 300 pasien. efek expectorant: baik, dahak berkurang banyak.
2. Influenza: 30 - 60 gr. sawi tanah segar dan 10 - 15 gr. bawang putih, seluruhnya digodok, minum.
3. Campak: Sawi tanah segar, ditumbuk Ialu peras ambil airnya, ditambah sedikit garam, minum. Kemudian diminumkan air putih. Umur 1 - 2 tahun, sekali minum 30 gr. Lebih dari 2 tahun: 60 gr.
4. Rheumatik sendi: 30 gr. sawi tanah segar direbus, minum.
5. Sakit lambung, melancarkan pencernaan: 30 gr. sawi tanah kering direbus, minum.
6. TBC: 30 gr. sawi tanah direbus, kemudian ditambah gula enau, minum setiap hari.
7. Sakit kuning: 1/4 genggam akar sawi tanah, 1/3 genggam daun sawi tanah dan 3 gelas air, semuanya rebus menjadi 1 1/2 gelas. Sesudah dingin disaring, + madu, sehari 2 x 3/4 gelas.
8. Kencing darah: 5 pohon sawi tanah (berikut akar) dan 3 gelas air, direbus menjadi 1% gelas sehari 3 x 1/2 gelas.
9. Sakit kandung kencing akibat kedinginan: 7 herba sawi tanah + akamya dan 3 gelas air direbus menjadi 1 gelas, minum.
10. Mencret (diare): 1 batang sawi tanah seutuhnya ditambah 3 gelas air, direbus menjadi 1 1/2 gelas, setelah dingin, disaring, ditambah madu. Sehari 2 x 3/4 gelas.
EFEK ANTI BAKTERI:
Eksperimen pada plat microbiology, rorifone dengan konsentrasi 5 mglml. menghambat pertumbuhan Diplococcus pneumonlac, Staphylococcus aureus, Hemophilus influenzae Pseudomonas aeruginosa, dan Escherichia coli. Efek samping Pada beberapa individu, kadang-kadang timbul rasa mulut kering, dan sedikit rasa tidak enak di lambung. Rasa tidak enak di lambung dapat dinetrahsir dengan menambahkan gula batu pada air rebusan atau minum larutan gulabatu.

KOMPOSISI SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS:
Rasa pedas, " hangat ", penurun panas, anti racun, peluruh air seni, mencairkan dahak (mucolitik), anti bakteri.Kandungan kimia Rorifone, rorifamide, 6 crystalline substans (2 substansi netral dan 4 asam organik) dan beberapa turunan decyanated.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar